Medco Energi Internasional: Emerging Through the Storm

9:55 PM | August 27, 2016 ANALISIS, Fundamental Tags: No Comments

Didirikan pada tanggal 9 Juni 1980, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDCO) adalah kontraktor pengeboran minyak dan gas nasional pertama di Indonesia. Sejak didirikan, MEDCO telah berubah nama tiga nya kali: dari PT Meta Epsi Pribumi Drilling Company pada awal berdirinya, PT MEDCO Energy Corporation sebelum Penawaran Umum Perdana pada tahun 1994. Dan terakhir, Perseroan mengubah namanya menjadi PT MEDCO Energi Internasional Tbk pada tahun 2000.

Salah satu kunci keunggulan Medco adalah keahlian Perusahaan untuk menjaga kestabilan produksi dari blok-blok yang sudah mature. Perusahaan berhasil menjaga produksi minyak dan gasnya dengan memitigasi natural rate of decline dari level umum di 20-25% menjadi di bawah 10%. Hal ini berhasil dicapai melalui berbagai usaha seperti menjaga tekanan reservoir dengan injeksi air, sand fracturing, drilling of infill wells, horizontal drilling, well work overs, dan penerapan teknologi modern.

Walau pendapatan penjualan dan laba kotor mengalami penurunan belakangan ini, Medco berhasil menjaga gross margin di atas 30%. Segmen minyak dan gas mencatatkan gross profit margin di level 35,1%, hanya sedikit lebih rendah dari levelnya di tahun 2014 sebesar 37,3%. Pada tahun 2015, Medco berhasil memperbagus struktur biayanya, sehingga gross profit margin tidak turun terlalu dalam walau average realized price dari minyak turun 49,6%.

EBITDA Tetap Positif walau Harga Minyak Turun

Bahkan dengan penurunan harga minyak yang mencapai 49,6%, Medco berhasil meningkatkan margin EBITDA di tahun 2015. Secara level, EBITDA turun 14,69% ke USD216,7 juta namun secara margin, EBITDA margin Perusahaan tumbuh dari 33,9%% di tahun 2014 menjadi 34,5% di tahun 2015. Pada Juni 2015, lapangan gas Senoro dan pengilangan DSLNG mulai berkontribusi terhadap pendapatan perusahaan. Kedepannya, EBITDA margin Medco diperkirakan akan semakin baik di tahun 2016 karena kontribusi full-year dari Senoro.

Walau harga minyak secara relatif masih lemah, Medco telah memulai persiapan modal untuk ekspansi di masa depan. Medco mengganti aktivitas investasi di tahun 2015 lebih ke arah akuisisi bisnis. Pada tahun 2015, capital expenditure turun ke USD135 juta dari USD335 juta di tahun 2014 sementara pengeluaran akuisisi naik dari USD23 juta ke USD180 juta. Namun, total capex di tahun 2015 masih tetap lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2014 (USD315 juta vs USD357 juta).

Sebagian besar ekspansi dibiayai melalui loan dan penerbitan utang, yang menyebabkan biaya pendanaan meningkat di tahun 2015. Dengan kondisi EBITDA yang lebih rendah, rasio EBITDA terhadap beban bunga turun dari 3,6x menjadi 2,7x. Tetapi, dengan level kas yang meningkat signifikan, current ratio dan cash ratio Perusahaan justru meningkat menjadi masing-masing di 1,98x dan 0,88x.

Pertumbuhan Inventori Minyak

Supply minyak tumbuh melebihi demand pada tahun 2015 walau harga minyak mengalami penurunan. Supply minyak naik dari rata-rata 93,31 juta barel per hari menjadi 95,76 juta barel per hari di tahun 2015, naik 2,63% dibandingkan tahun sebelumnya. Dari sisi demand, harga minyak yang jauh lebih murah tidak secara langsung mendorong peningkatan konsumsi minyak walau pertumbuhan konsumsi yang lebih tinggi tercatat di tahun 2015. Konsumsi minyak tumbuh 1,52% di tahun 2015, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 1,17% di tahun 2014.

Dengan level produksi yang melampaui level konsumsi, inventori minyak secara umum meningkat signifikan di tahun 2015. Inventori minyak global tercatat di 4,3 miliar barel pada akhir tahun 2015, naik 10,99% dari levelnya di akhir tahun 2014. Dilihat dari aktivitas inventori, jumlah inventori yang ditarik meningkat signfikan di tahun 2015 : rata-rata inventori yang ditarik mencapai 1,94 juta barel per hari dibandingkan dengan 0,89 juta barel per hari di tahun sebelumnya.

Seiring dengan laju penurunan harga minyak yang mulai melambat, industri minyak mulai meningkatkan inventori untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak di masa yang akan datang. Energy Information Administration (EIA) Amerika Serikat memperkirakan harga minyak akan berada di kisaran USD40 per barel di tahun 2016 dan meningkat menjadi USD50 per barel di tahun 2017.

Peluang Investasi Minyak di Indonesia yang Luas

Dari pasar dalam negeri, lifting minyak dan gas Indonesia di tahun 2016 diperkirakan akan tetap berada di level yang mirip dengan target APBN 2015. Dengan sebagian besar sumur yang beroperasi sudah terkategori sumur tua, produksi minyak akan melanjutkan tren penurunan. Sementara itu, aktivitas investasi di sektor perminyakan masih relatif rendah akibat masih tingginya biaya eksplorasi.

Untuk meningkatkan lifting minyak dan gas, Pemerintah Indonesia telah menyiapkan beberapa kebijakan termasuk:

  1. meningkatkan aktivitas eksplorasi untuk mencari lapangan baru;
  2. mengembangkan penguasaan teknologi eksplorasi dan eksploitasi;
  3. peningkatan promosi lapangan baru termasuk lapangan gas non-konvensional;
  4. menerapkan teknologi EOR untuk lapangan produksi yang berpotensi. Pemerintah juga membuka peluang bagi produsen minyak dan gas untuk mengembangkan bisnisnya di Indonesia

Company Overview

Selama lebih dari tiga dekade, MEDCO telah tumbuh menjadi perusahaan energi terintegrasi yang berfokus pada eksplorasi dan produksi minyak dan gas. MEDCO juga telah melakukan diversifikasi ke bisnis energi terkait lainnya, seperti Pembangkit Listrik, Liquefied Petroleum Gas, dan pertambangan batu bara. Selanjutnya, MEDCO juga mencari peluang untuk diversifikasi bisnis energi terkait yang lainnya.

Sebagai bagian dari pengembangan bisnis, MEDCO terus mengembangkan operasinya hingga ke berbagai negara, termasuk Oman, Yemen, Libya, dan Amerika Serikat. Untuk strategi bisnis Perusahaan yang terkini, Medco akan lebih fokus pada aset domestik yang produktif yang dapat langsung menghasilkan sehingga dapat turut meningkatkan pendapatan Perusahaan.

Kinerja Operasi Tetap Terjaga

Pada tahun 2015, Medco mencatatkan Average Crude Oil Price di level USD49,29 per barel, 49,62% lebih rendah dibandingkan realisasi di tahun 2014. Untuk penjualan gas yang berdasarkan kontrak jangka panjang, Perusahaan merealisasikan harga rata- rata di level USD5,23 per MMBTU, turun 6,6% dibandingkan realisasi di tahun 2014. Perusahaan mencatatkan total penjualan minyak dan gas sebesar USD574,36 juta di tahun 2015, lebih rendah dibandingkan pendapatan di tahun 2014 yang mencapai USD701,43 juta di tahun 2014.

Salah satu kunci keunggulan Medco adalah keahlian Perusahaan untuk menjaga kestabilan produksi dari blok-blok yang sudah mature. Perusahaan berhasil menjaga produksi minyak dan gasnya dengan memitigasi natural rate of decline dari level umum di 20-25% menjadi di bawah 10%. Hal ini berhasil dicapai melalui berbagai usaha seperti menjaga tekanan reservoir dengan injeksi air, sand fracturing, drilling of infill wells, horizontal drilling, well work overs, dan penerapan teknologi modern.

revenue MEDCO

Medco mencatatkan total biaya penjualan sebesar USD420,22 juta di tahun 2015, lebih rendah 12,41% dari USD479,77 juta di tahun 2014. Penurunan tersebut merefleksikan keberhasilan Perusahaan dalam optimisasi struktur biaya. Biaya lifting Medco turun dari USD11 per BOE di tahun 2014 menjadi USD9 per BOE, berhasil dicapai melalui optimisasi jumlah pekerja kontrak serta renegosiasi kontrak dengan supplier Perusahaan. Medco menargetkan untuk semakin kompetitif dengan menjaga struktur biaya mereka di level yang relatif rendah untuk kedepannya.

Namun demikian, dengan jatuhnya harga minyak di tahun 2015, laba kotor Perusahaan dari segmen minyak dan gas sempat mengalami penurunan ke level USD201,67 juta dari USD261,91 juta di tahun 2014. Karena segmen minyak dan gas masih merupakan pendukung utama untuk pendapatan Medco, laba kotor perusahaan juga mengalami penurunan 23,1% ke level USD208,26 juta di tahun 2015.

Walau pendapatan penjualan dan laba kotor mengalami penurunan, Medco berhasil menjaga gross margin di atas 30%. Segmen minyak dan gas mencatatkan gross profit margin di level 35,1%, hanya sedikit lebih rendah dari levelnya di tahun 2014 sebesar 37,3%. Pada tahun 2015, Medco berhasil memperbagus struktur biayanya, sehingga gross profit margin tidak turun terlalu dalam walau average realized price dari minyak turun 49,6%.

Untuk mengantisipasi tantangan akibat harga minyak yang jatuh, Medco akan lebih fokus pada nilai transaksi daripada volume yang lebih besar. Produksi minyak dan gas di tahun 2015 tidak jauh berbeda dari level yang tercatat di tahun 2014. Dengan struktur biaya yang lebih rendah, Medco berhasil menghasilkan profit yang cukup baik walau kondisi harga pasar minyak masih relatif rendah. Perusahaan juga memiliki cadangan 2P yang baik dengan sumberdaya yang cukup kuat. Kedepannya, Medco akan menjaga produksi minyak dan gas di kisaran 55-60 MMBOEPD di tahun 2016.

main business Medco

Financial Highlights

Bahkan dengan penurunan harga minyak yang mencapai 49,6%, Medco berhasil meningkatkan margin EBITDA di tahun 2015. Secara level, EBITDA turun 14,69% ke USD216,7 juta namun secara margin, EBITDA margin Perusahaan tumbuh dari 33,9%% di tahun 2014 menjadi 34,5% di tahun 2015. Pada Juni 2015, lapangan gas Senoro dan pengilangan DSLNG mulai berkontribusi terhadap pendapatan perusahaan. Kedepannya, EBITDA margin Medco diperkirakan akan semakin baik di tahun 2016 karena kontribusi full-year dari Senoro.

Namun, Perusahaan sempat mencatatkan net profit negatif. Kerugian tersebut terjadi karena peningkatan signifikan dari impairment loss asset, yang meningkat dari USD16,43 juta di tahun 2014 menjadi USD230,74 juta di tahun 2015. Sebagian besar impairment loss tersebut berasal dari revaluasi aset minyak dan gas. Namun, impairment loss tersebut sedikit berkurang menjadi USD180,49 juta karena Perusahaan juga memperoleh gain dari revaluasi aset properti sebesar USD50,25 juta yang berasal dari penambahan kepemilikan sebesar 51% di PT Api Metra Graha, yang memiliki Energy Building di Jakarta. Walau secara bottomline profit Medco masih negatif, Perusahaan mampu menunjukkan kemampuan manajemen yang baik sehingga dapat menjaga performa operasionalnya, mengingat EBITDA hanya turun 14,69% dibandingkan dengan rata-rata harga realisasi penjualan minyak yang turun 49,6%.

Persiapan untuk Ekspansi

Walau harga minyak secara relatif masih lemah, Medco telah memulai persiapan modal untuk ekspansi di masa depan. Medco mengganti aktivitas investasi di tahun 2015 lebih ke arah akuisisi bisnis. Pada tahun 2015, capital expenditure turun ke USD135 juta dari USD335 juta di tahun 2014 sementara pengeluaran akuisisi naik dari USD23 juta ke USD180 juta. Namun, total capex di tahun 2015 masih tetap lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2014 (USD315 juta vs USD357 juta).

Sebagian besar ekspansi dibiayai melalui loan dan penerbitan utang, yang menyebabkan biaya pendanaan meningkat di tahun 2015. Dengan kondisi EBITDA yang lebih rendah, rasio EBITDA terhadap beban bunga turun dari 3,6x menjadi 2,8x. Tetapi, dengan level kas yang meningkat signifikan, current ratio dan cash ratio Perusahaan justru meningkat menjadi masing-masing di 1,98x dan 0,88x.

Dengan net profit yang masih negatif, ekuitas Medco mengalami penurunan dari USD877,5 juta menjadi USD696,5 juta di tahun 2015. Hal ini serta level utang yang lebih tinggi menyebabkan gearing Perusahaan meningkat. Debt to Equity ratio meningkat dari 1,35x menjadi 2,27x sementara Net Debt to Equity ratio masih tetap di bawah 2x karena Perusahaan memiliki level kas yang tinggi.

Dengan nominal EBITDA yang turun dari tahun sebelumnya, rasio Debt to EBITDA Medco naik dari 4,66x menjadi 7,29x. Namun, kenaikan gearing rasio tersebut dapat dijustifikasi dengan proyek-proyek prospektif Medco serta cadangan kas lebih dari USD400 juta yang siap digunakan untuk menggapai peluang bisnis di masa yang akan datang.

Sumber: Company Report dari PT Danareksa Sekuritas, Juni 2016