inflasi terkendali, kebijakan moneter longgar akan berlanjut

6:15 AM | February 3, 2016 Macro View No Comments

Leo Rinaldy, Wisnu Trihatmojo/Ekonom-Riset Mandiri Sekuritas

CPI rose moderately. Indeks harga konsumen (CPI) naik 0,51% MoM bulan lalu, sejalan dengana prediksi kami, tetapi lebih rendah daripada prediksi konsensus 0,66% MoM.

Realisasi itu moderat, mengingat rerata inflasi Januari sebesar 0,92% MoM pada 2010–2014. Harga makanan berkontribusi 0,46ppt terhadap inflasi, di antaranya adalah daging ayam dan bawang (masing-masing 0,09ppt), telur (0,06ppt), dan bawang putih (0,04ppt).

Sementara itu, biaya transportasi turun, sebagian disebabkan penurunan harga BBM. Biaya itu termasuk bensin (-0,15ppt), tiket pesawat (-0,05ppt), dan solar (-0,02ppt).

Year-on-year inflation remains under control.
Secara tahunan, inflasi naik menjadi 4,14% (konsensus: 4,26%, prediksi kami: 4,12%), lebih tinggi daripada 3,35% YoY pada Dec15. Kami mengatribusi kenaikan itu karena dampak dasar penghitungan yang rendah ketika pemerintah menurunkan harga BBM dua kali pada Januari tahun lalu dan CPI mengalami deflasi 0,24% MoM pada periode yang sama.

Meskipun demikian, menurut kami inflasi year-on-year Jan16 masih tetap tenang, dan masih sesuai dengan target inflasi BI sebesar 4 ± 1%.

Core inflation trimmed again
. Inflasi inti kembali melambat menjadi 3,62% YoY dari 3,95% YoY pada bulan sebelumnya (konsensus: 3,76% YoY, prediksi kami: 3,80% YoY). Realisasi itu merupakan yang keempat kali berturut-turut dan mencerminkan permintaan konsumen masih tetap rendah.

Another low base in Feb16.
Dampak lanjutan pada pemangkasan harga BBM pada Jan15 lalu dan turunnya harga cabai menghasilkan deflasi 0,36% MoM pada Feb15, sehingga seakan menjanjikan adanya dasar penghitungan yang rendah juga untuk CPI Feb16. Karena itu, inflasi year-on-year akan merangkak lagi bulan ini. Kami menetapkan kembali prediksi inflasi FY16 5%.

Bank Indonesia to hold BI rate at 7.25% on the next board meeting (17 – 18Feb16). Kami memprediksi pemangkasan BI rate 25bps menjadi 7% akan terjadi pada Mar16/Apr16 ketika pemerintah menurunkan lagi harga BBM dan volatilitas rupiah masih tetap terjaga.

Setelah itu, BI rate tidak berubah lagi hingga akhir 2016. Sebagai informasi, rupiah masih bertahan selama ini; sepanjang Jan16 rupiah terapresiasi 0,1%, kurang lebih sejalan dengan mata uang regional. Nilai mata uang yang stabil sangat mendukung adanya relaksasi moneter.

Patut diingat bahwa kami menilai ada kesempatan bagi Bank Indonesia untuk memangkas giro wajib minimum (GWM) untuk melonggarkan likuiditas (LDR mencapai 90,5% papda Nov15). Saat ini GWM berada pada level 7,5% setelah penurunan 50bps pada Dec15.

Penurunan dibutuhkan karena kondisi likuiditas yang ketat saat itu ditambah dengan rencana penerbitan obligasi pemerintah denominasi rupiah di awal tahun (frontloading plan) tahun ini. Pada 1H16 pemerintah berencana menerbitkan awal obligasi berporsi 61% dari total Rp532,4 triliun dari penerbitan kotor, atau senilai Rp324,8 triliun.