BNIS Economic & Debt Market Daily Report of February 01, 2016

8:25 AM | February 1, 2016 Obligasi No Comments

Economist : Heru Irvansyah
FI Analyst : Robitirtanto

•Inflasi sepanjang bulan Januari diperkirakan masih berada pada level wajar dikisaran 0.88% dan pada bulan Februari diperkirakan akan lebih rendah lagi seiring dengan konsistensi pemerintah dalam menjaga harga-harga kebutuhan bahan pokok dan selesainya dampak dari kenaikan tarif listrik pada bulan Desember tahun lalu. Inflasi sepanjang Januari tercatat berasal dari kenaikan harga bawang merah yang belum memasuki masa panen dan juga kenaikan harga daging dan telur ayam yang disebabkan oleh kenaikan harga jagung sebagai bahan baku utama pakan ternak yang telah mengalami kenaikan yang signifikan. Inflasi selama bulan Januari juga berasal dari kenaikan tarif listrik pada bulan Desember yang dibayarkan pada bulan Januari dikarenakan belum semua pelanggan PLN beralih ke tagihan prabayar.

•Kementerian Keuangan memperkirakan bahwa laju pertumbuhan ekonomi nasional selama tahun 2015 berada pada level 4.74% dimana perkiraan Bank Indonesia (BI) sedikit lebih optimis pada level 4.8%. Sementara itu, BI juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada tahun ini akan lebih baik dibandingkan pada tahun lalu dimana BI optimis pertumbuhan ekonomi akan bisa mencapai 5.2% seiring dengan pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral dan juga mulai membaiknya perekonomian Tiongkok yang diperkirakan akan terjadi pada semester kedua yang akan datang. Proyeksi pertumbuhan ekonomi BI tersebut sedikit dibawah target pemerintah di level 5.3% dimana kami menilai bahwa level tersebut merupakan level yang moderate dan sangat mungkin untuk dicapai hingga akhir tahun nanti..

•Pemerintah Argentina dan beberapa bank di Amerika Serikat dikabarkan mencapai kesepakatan pinjaman hutang bagi Argentina sebesar USD 5 miliar yang akan memperkuat cadangan devisa negara tersebut menjadi sekitar USD 30 miliar. Transaksi pinjaman internasional oleh pemerintah Argentina tersebut menjadi sangat menarik dan dicermati oleh para pelaku pasar ditengah perseteruan antara pemerintah Argentina dan dua pihak investor pemegang surat utang negara yang dimenangkan oleh para investor di pengadilan di AS yang menyebabkan Argentina dinyatakan gagal bayar (default) meskipun negara tersebut secara aktual masih mampu membayar utang-utangnya.

•Pemerintah Tiongkok terus berupaya dalam mengendalikan nilai tukar CNY terhadap USD yang terus melemah akibat adanya arus modal keluar dari pasar keuangan negara tersebut. Semenjak tahun alu diperkirakan lebih dari USD 1 triliun dana keluar dari pasar keuangan Tiongkok dimana hal tersebut menguras cadangan devisa negara tersebut. Investor global masih menunjukkan sikap konservatif terkait dengan data-data ekonomi Tiongkok yang dianggap membingungkan. Beberapa ekonom menilai bahwa pemerintah Tiongkok perlu menyusun strategi komunikasi yang lebih kredibel dan terbuka terkait dengan kesangsian para pelaku pasar terhadap data ekonomi negara tersebut yang memicu kekhawatiran investor sehingga terjadi aksi ambil untung dan keluarnya modal dari pasar keuangan negara tersebut.

•Dampak penurunan suku bunga oleh BOJ dari 0.1% menjadi -0.1% membuat investor melakukan aksi beli di perdagangan obligasi negara pada sesi 2 perdagangan di hari Jumat (29/01). Meskipun sempat terjadi aksi profit taking, kurva yield obligasi negara turun tajam di semua tenor dan membentuk pola bullish. Rata-rata yield secara keseluruhan turun sebesar (-14.54bps). Obligasi dalam kelompok tenor pendek rata-rata mengalami penurunan (-2.15bps), dan obligasi dalam kelompok tenor menengah mengalami penurunan rata-rata sebesar (-0.33bps) sementara kelompok tenor panjang mencatatkan kenaikan rata-rata sebesar (-0.90bps).

•Minat beli terhadap obligasi negara kembali meningkat tajam pada perdagangan Jumat (29/01) sehingga menyebabkan kenaikan volume perdagangan obligasi negara, volume transaksi outright tercatat sejumlah Rp 17.223tn naik dibandingkan dengan volume transaksi di hari sebelumnya yang sebesar Rp 7.73tn. Rata-rata transaksi per seri naik menjadi Rp351bio dari sebelumnya Rp 227.51bio, volume terkecil yang di transaksikan terjadi pada obligasi ORI010 sebesar Rp3.2bio sementara obligasi dengan volume terbanyak yang ditransaksikan adalah seri FR0056 (Rp2.2tn), FR0073 (Rp2.18tn), FR0070 (Rp1.6tn), sementara seri FR0068, FR0071 dan FR0064 ditransaksikan dengan volume rata-rata Rp1.3tn.

•Obligasi seri benchmark pada perdagangan Jumat (29/01) naik hampir di semua seri. Di akhir hari, FR0053 ditutup pada harga 100.00 (0bps), FR0056 ditutup di harga 100,00 (+20bps), FR0073 ditutup pada harga 100.40 (+20bps) sementara FR0072 ditutup pada harga 96.00(+40bps).

DER 20160201.pdf