Chinese Numerology Effect

5:29 AM | February 1, 2016 BERITA No Comments

Chinese Numerology Effect

LUKAS SETIA ATMAJA
Financial Expert – Prasetiya Mulya Business School

PADA budaya China, angka 6, 9 dan terutama 8 dipercayai sebagai pembawa hoki karena secara fonetik atau bunyinya mirip dengan kata ”kemakmuran” (untuk angka 8), ”panjang umur” atau ”langgeng” (untuk angka 9), dan ”lancar” (untuk angka 6).

Sedangkan, angka 4 dianggap sial karena ke dengaran seperti kata ”mati”. Lihatlah, Olimpiade Beijing dibuka pada pukul 8 tanggal 8 bulan 8 tahun 2008. Lalu, pada tanggal 9 bulan 9 tahun 1999, ada puluhan ribu pasang pengantin yang menikah diNegeri Panda.

Mereka berharap angka 9 membuat perkawinannya akan langgeng. Takhayul ternyata juga eksis di bursa saham China. Misalnya, Yan Caigen, seorang investor di bursa Shanghai, membeli saham perusahaan semen hanya karena ticker code-nya bernomor 600881. Harga saham tersebut mendadak naik tiga kali lipat dan Yan percaya bahwa dua angka 8 tersebut adalah pembawa keberuntungan.

Selain ticker code, investor China di bursa Shanghai dan Shenzen menyukai akhiran angka 8 dalam menetapkan harga beli saham. Apakah angka hoki benar-benar membawa rezeki bagi investor? Artikel ilmiah dari David Hirshleifer, maha guru behavioral finance serta Jian dan Zhang dari Nanyang Business School berusaha menjawabnya.

Hirshleifer dkk meneliti apakah takhayul angka hoki berpengaruh terhadap pembentukan harga saham di bursa China. Mereka meneliti sampel 1.384 initial public offering (IPO) di China selama periode 1991-2005. Penelitian ini dimungkinkan karena otoritas bursa Shanghai dan Shenzhen menggunakan sistem angka dalam ticker code. Misalnya, Bank of China memiliki ticker code 601988.

Ada empat pertanyaan riset yang ingin dicari jawabannya. Pertama, apakah investor mempercayai takhayul angka hoki dalam memilih saham? Kedua, apakah calon emiten dan otoritas bursa efek berusaha memenuhi preferensi calon investor atas saham berangka hoki? Ketiga, apakah saat IPO investor menghargai saham dengan angka hoki lebih tinggi dari pada saham tanpa angka hoki?

Keempat, apakah angka hoki berdampak positif pada imbal hasil? Jika calon investor percaya pada angka hoki, maka diperkirakan bahwa perusahaan yang melakukan IPO berusaha mendapatkan ticker code berangka hoki untuk memenuhi keinginan investor. Tingginya permintaan akan saham-saham dengan ticker code yang memiliki angka hoki akan membuat harga saham tersebut melambung tinggi tanpa bisa dijustifikasi secara fundamental.

Maka, terbentuklah lucky number premium atau bubble yang bakal dikoreksi setelah investor memperoleh informasi lebih banyak tentang perusahaan. Biasanya dalam waktu tiga tahun paska-IPO investor mulai menyadari bahwa saham dengan ticker code berangka hoki ternyata tidak sehebat yang diperkirakan dan mulai menjual saham yang overvalued.

Artinya, selama tiga tahun pasca-IPO, imbal hasil saham yang ticker code-nya mengandung angka hoki diperkirakan lebih rendah dibanding imbal hasil saham dengan ticker code tanpa angka hoki. Hirshleifer dkk membagi saham menjadi tiga kategori: lucky (ada minimal satu angka hoki, tanpa angka 4), unlucky (ada angka 4 dan tidak ada lucky numbers), serta mixed (campuran angka 4 dan lucky numbers).

Semua saham yang terdaftar di bursa Shanghai diawali dengan angka 6, sehingga awalan angka ini tidak dianggap sebagai angka hoki. Dalam penelitian tersebut, Hirshleifer dkk menemukan beberapa hal menarik. Sebagian besar investor di China percaya dengan angka hoki sehingga calon emiten berusaha mendapatkan angka hoki dalam ticker code -nya.

Misalnya, sekitar 60% saham IPO dikategorikan sebagai lucky stock, dan hanya 7% calon emiten yang ”nekat” menjual sahamnya tanpa senjata angka hoki. Sisanya 33% termasuk mixed stock. Selain itu, mayoritas emiten yang listing code-nya memiliki angka hoki adalah perusahaan besar. Ini mengindikasikan bahwa otoritas bursa China kemungkinan ”menjual” angka hoki tersebut kepada calon emiten.

Selain itu, angka hoki pada ticker code bisa menjadi strategi efektif bagi calon emiten untuk meraup dana lebih banyak di pasar perdana. Saat IPO, investor menghargai saham lucky lebih tinggi dari pada saham unlucky. Akibat harga kemahalan (premi) yang dibayar oleh investor pada IPO, selama periode tiga tahun pasca-IPO imbal hasil saham lucky ternyata lebih rendah 0,5% per bulan dibanding imbal hasil sahamunlucky.

Dengan kata lain, investor yang percaya angka hoki harus gigit jari dan membayar ”biaya” 0,5% per bulan untuk mengoleksi saham berangka hoki. Bisa disimpulkan bahwa takhayul angka hoki memengaruhi pembentukan harga IPO di China dan investor membayar kemahalan untuk saham berangka hoki.

Premi ini kemudian dikoreksi oleh pelaku pasar selama tiga tahun pasca-IPO. Jadi, angka hoki hanya memberikan nikmat buat emiten yang melakukan IPO, tetapi membawa sengsara bagi investor yang membeli kemahalan. Oleh karena itu, pertimbangan fundamental, bukan takhayul, yang sebaiknya dipakai dalam memilih saham.

Sumber