Catatan dari Mandiri Investment Forum 2016

6:51 PM | January 28, 2016 Macro View No Comments

Leo Rinaldy/Riset Mandiri Sekuritas

Kemarin, Bank Mandiri dan Mandiri Sekuritas menggelar Mandiri Investment Forum 2016. Temanya adalah “Optimizing Private Sector and Regional Government Contributions.” Koneksi antara pembicara dalam acara itu jelas: meskipun ada risiko tinggi dari penurunan ekonomi global, Indonesia masih lebih baik iklimnya.

Global downside risks remain high. Pertumbuhan ekonomi global masih tetap tenang pada 2016 dan perbaikan masih belum merata di negara dunia. China jelas menjadi perhatian terutama pada risiko yang disampaikan para pembicara.

Misalnya, country director ADB menyatakan setiap adanya deceleration 1% pada pertumbuhan ekonomi China akan menurunkan GDP riil Indonesia sebesar 0,2%. Serupa, gubernur Bank Indonesia menggarisbawahi dampak perlambatan ekonomi China ke ekspor dan perdagangan Indonesia.

Indonesia maintained optimistic tone. Meskipun ada angin global, pemerintah, bank sentral, dan ADB semuanya setuju bahwa pertumbuhan ekonomi akan membaik tahun ini karena adanya investasi dan infrastruktur.

ADB dan Bank Indonesia menilai pertumbuhan ekonomi FY16 sebesar 5,1%-5,3% dan 5,2%-5,6%. Beberapa katalis dibutuhkan untuk menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan. Katalis itu adalah reformasi struktural, partisipasi swasta/BUMN/dan pemeda, dan perkembangan dari mesin pertumbuhan baru seperti e-commerce, wisata, dan sektor maritim.

Salah satu contoh adalah rencana Kementerian BUMN untuk menyesuaikan ukuran BUMN yang tidak memberikan ketahanan nasional dan keuntungan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi. Kementerian membidik 19 perusahaan BUMN untuk masuk ke dalam daftar Fortune 500 pada 2019 dari jumlah saat ini lima perusahaan.

Pada sektor e-commerce, ruang pertumbuhan masih tetap terbuka karena masih pada tahap awal. E-commerce Indonesia hanya membukukan 1% dari total transaksi keuangan dan 15 tahun di belakang pasar AS dan Eropa. E-commerce Indonesia memiliki kemampuan tumbuh sebesar China di masa depan karena ukuran dari populasi yang ada.

Meskipun demikian, untuk membuat sektor tumbuh, maka dukungan pemerintah yang berkelanjutan, terutama untuk logistik dan infrastruktur yang mengalami debottlenecking, maka harus ada.

A sneak peek on Central Java economy. Seperti yang sudah disinggung di atas, partisipasi dari pemerintah lokal dan investasi pada level regional merupakan faktor kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang naik dan berkelanjutan ke depannya.

Karena itu, Gubernur Jateng dan Walikota Bandung menunjukkan potensi daerah mereka kepada calon investor. Terutama Gubernur Jateng yang menyatakan daerahnya merupakan tempat yang baik untuk investasi.

Insentif Pemda Jateng adalah ketersediaan buruh karena upah minimumnya kompetititf dibandingkan dengan propinsi lain. Secara makroekonomi, pertumbuhan ekonomi sedikit di atas rerata nasional (5% vs. 4,7%) dan inflasi lebih rendah (2,7% vs. 3,4%). Kesempatan berinvestasi tersedia di sektor agrikultur, manufaktur, infrastruktur, turisme, tambang dan energi, serta properti.

The beauty of Bandung. Walikota Bandung juga menunjukkan potensi daerahnya kepada investor. Kota Bandung membidik target sebagai Silicon Valley-nya Indonesia dan mengundang investor swasta dan pemerintah untuk mencapai target investasi Rp60 triliun.

Dana itu akan digunakan untuk berbagai area investasi karena fasilitas infrastruktur, rumah, pendidikan, IT dan komunikasi, dan reformasi birokrasi.

Bandung diketahui bersahabat dengan UKM dalam hal izin dan insentif kredit. Daerah itu juga terkenal sebagai daerah perluasan Jakarta, terutama penyelesaian high-speed train yang menghubungkan dua kota dengan waktu hanya 35 menit.