Trade Deficit Persisted But Not Alarming for Current Account Deficit

1:48 PM | January 18, 2016 Macro View No Comments

Leo Rinaldy, Wisnu Trihatmojo/Ekonom-Riset Mandiri Sekuritas
Better-than-expected imports kept trade balance in deficit. Neraca perdagangan Dec15 dibukukan defisit US$230 juta, di luar ekspektasi surplus US$100 juta, tidak banyak berubah dari selisih bulanan US$346 juta.

Exports were stable. Rerata kenaikan CPO 3,5% MoM naik pada Dec15 dan membantu mendorong ekspor barang terkait (+14,9% MoM) dengan pendorong utama bijih/terak/abu (ores/slag/ash) (366,3% MoM), not-knitted apparels (+30% MoM), bubur kayu (wood pulp) (+65% MoM), dan timah (+128,6% MoM).

Productive goods drove imports. Mesin dan alat mekanik (machinery & mechanical appliances) (11,3% MoM) dan besi-baja (13,5% MoM) mendorong impor Dec15.

FY15 printed the first surplus since 2011 on weaker imports. Ekspor dan impor sepanjang 2015 masing-masing berkontraksi 14,6% dan 19,9%, lebih dalam daripada penurunan 3,6% dan 4,5% pada 2014.

Current account to remain in check despite narrowing trade surplus. Surplus kumulatif pada kuartal IV telah melebar hanya menjadi US$437 juta dari US$2,7 miliar pada 3Q15. Bagaimanapun juga, hal tersebut tidak membahayakan bagi defisit neraca berjalan (CAD) 4Q15 yang menurut kami masih tetap sehat yaitu 2%–2,2% dari GDP.

Patut dicatat bahwa Bank Indonesia sudah memberi sinyal bahwa CAD FY15 yang terukur adalah sekitar 2% dari GDP, turun dari 3,1% pada FY14. CAD aktual tersebut akan dirilis pada Feb16. Dalam kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi, percepatan pada impor belanja modal menunjukkan bahwa investasi sudah menjadi lebih baik.

Karena itu, kami memprediksi pertumbuhan ekonomi membaik sedikit pada 4Q15. Kami memprediksi pertumbuhan ekonomi pada periode itu berkisar antara 4,7% YoY-4,8% YoY.