Holcim beli Lafarge Indonesia Rp1.6 Triliun, Wijaya Karya tarik pinjaman Rp3.75 Triliun Q1- 2016

10:02 AM | January 4, 2016 BERITA No Comments
  • Ringkasan media terbit hari ini
  • Defisit fiskal FY15 dilaporkan 2,8% dari GDP. Pendapatan pemerintah dicatatkan Rp1.491,5 triliun (84,7% dari target) dan belanja Rp1.810 triliun (91,2% dari target) pada FY15. Dari pendapatan tersebut, penerimaan pajak berkontribusi Rp1.235,8 triliun (83% dari target). Berdasarkan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazara belanja modal tumbuh 45% menjadi Rp213,3 triliun, dan mencerminkan anggaran belanja masih produktif. Defisit fiskal mencapai Rp318,5 triliun (2,8% dari GDP), lebih tinggi dari target APBN-P 2015 Rp222,5 triliun (1,9% dari GDP). Patut dicatat angka itu belum final karena masih harus menunggu hasil audit. (Bisnis Indonesia)
  • Penerimaan pajak dari program revaluasi aset pada periode 20 Oct15–31 Dec15 dapat melebihi target Rp15tn – Rp16tn. Saat ini, realisasi temporer Rp14,3 triliun. Sebanyak 1.438 perusahaan swasta dan BUMN menjalankan program itu; beberapa di antaranya adalah PT Angkasa Pura I & II, PT Perkebunan Nasional III, BBCA, PT Bank Artha Graha International Tbk (INPC, Rp64), dan PLN. Pemerintah hanya membidik penerimaan pajak itu sebesar Rp10 triliun dengan asumsi tarif 3% dari program tersebut tahun ini . Tarif revaluasi aset akan naik menjadi 4% hingga 1H16 dan berlanjut menjadi 6% pada 2H16. (Kontan)
  • Pemerintah ingin mengimpor lima komoditas untuk mengamankan target inflasi 2016. Kelimanya adalah beras (1.500 ton), jagung (600 ton), daging (239 ton), gula (2.900 ton), dan kedelai (1.800–2.000 ton). Kuota itu akan dievaluasi setiap 3 bulanan untuk menambah atau mengurang impor. (Bisnis Indonesia)
  • PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB, Rp995) menandatangani perjanjian jual beli bersyarat (CSPA) untuk membeli Lafarge Indonesia per 29 Dec15 dengan prediksi nilai transaksi Rp1,6 triliun-Rp4 triliun. CSPA akan tergantung dari beberapa kondisi yang harus dipenuhi dalam 90 hari. Lafarge Indonesia saat ini beroperasi di Aceh dengan total kapasitas 1,6 juta MT. Pembelian akan digunakan dari utang dari induk SMCB (Holderfin BV). Patut dicermati sinergi keduanya, karena pangsa pasar utama Lafarge Indonesia adalah Sumatra Utara dan Aceh. (IDX)
  • PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA, Rp309) melakukan revaluasi aset, sehingga menambah nilai bangunan perseroan US$42,2 juta dan hanya membayar 3% dari pajak pendapatan dari seharusnya 10%. Aset gedung naik dari US$18,8 juta menjadi US$61 juta. Revaluasi akan membantu meningkatkan debt to equity ratio; net gearing GIAA 9M15 mencapai 94%. (Investor Daily)
  • Pemerintah akan menambah bank untuk menyalurkan kredit usaha rakyat (KUR) yang diprediksi mencapai Rp100 triliun-Rp120 triliun pada 2016 dari Rp30 triliun pada 2015. Saat ini, hanya ada tiga bank yang mendistribusikan KUR: PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI, Rp11.350, BUY, TP Rp11.500), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI, Rp9.150), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI, Rp4.965, BUY, TP Rp5.900
  • Bank Indonesia menunda penerapan teknologi kartu ATM berbasis chip dari akhir 2015 menjadi akhir 2021. Penggunaan pin enam digit juga ditunda hingga 30 June 2017.
  • Konsorsium PT Wijaya Karya Tbk (WIKA, Rp2.630, NEUTRAL, TP Rp3.000) akan menarik pinjaman senilai Rp3,75 triliun dari China Development Bank (CDB) senilai US$5,5 miliar pada kuartal I-2016. Konsorsium HSR akan terlebih dahulu menyelesaikan kewajiban modal minimal PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) senilai Rp1,25 triliun. Dari nilai tersebut, konsorsium telah menyetor dana sekitar Rp875 miliar. (Investor Daily)
  • PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG, Rp50) berencana melunasi (refinancing) utang senilai total US$115 juta tahun ini. Utang tersebut terdiri atas pinjaman kepada Pro Strategic Investor Ltd senilai US$53 juta dan PST Finance Ltd US$62 juta. (Investor Daily)
  • PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS, Rp1.950) melepas 100% saham dua anak usahanya, yaitu PT Sawit Mandiri Lestari (SML) dan PT Ahmad Saleh Perkasa (ASP). Nilai transaksi yang sebesar Rp289,5 miliar tersebut terbagi menjadi dua. Nilai transaksi saham pada SML mencapai Rp150,3 miliar, sedangkan ASP sebesar Rp139,1 miliar. (Investor Daily)
  • Perusahaan produsen jamu dan farmasi PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO, Rp550, NEUTRAL, TP Rp550) berupaya memperkuat penjualan di ASEAN, khususnya Filipina. Perusahaan akan fokus menjual dua produk herbal, yakni Tolak Angin dan Tolak Linu. (Kontan)

Sumber : Mandiri Sekuritas