Memilih saham-saham murah

7:40 AM | November 13, 2015 TUTORIAL No Comments

Membeli saham adalah membeli bisnis perusahaan. Berburulah saham murah di saat pasar koreksi, tetapi cari yang murah bukan murahan.

EPS >  PER >  PEG >  ROA > ROE > DER

Pasar saham sedang bermurah hati untuk para pembeli. Sampai dengan artikel ini dibuat Indeks harga saham gabungan (IHSG) sejak awak tahun (year to date) sudah minus 8,7 persen, dan minus 23,9 persen dari posisi tertinggi Mei. Ini adalah momentum emas yang selalu ditunggu oleh investor. Hanya satu hal saja yang mengganjal, adakah indeks akan turun lagi?

Artikel ini tidak akan membahas mengenai how low can you go IHSG. Artikel ini ingin memberikan tips mengenai cara memilih saham-saham murah yang otomatis bermunculan pada saat pasar bearish. Memilih saham murah penting, karena rumus utama untung di investasi saham sangat sederhana, beli murah dan dijual mahal. Sayangnya saham murah bukan ditentukan oleh harga per lembar saham, melainkan melibatkan beberapa vareabel.

Membeli saham adalah membeli perusahaan atau membeli bisnis perusahaan. Kuncinya sederhana, cari perusahaan yang untung dari bisnisnya. Investor harus punya fokus ke bottom line atau net income emiten. Tetapi buka net income saja yang perlu dilihat, perhatikan Earning Per Share (EPS) karena bisa saja laba naik tetapi outstanding share (pemegang saham) bertambah, sehingga jatah kita di laba berkurang. Jadi pertama perhatikan yang EPS nya positif dan besar.

Lalu untuk tahu saham tersebut murah atau tidak bagaimana? Untuk menemukan yang murah kita harus membandingkan apa yang kita bayar dengan apa yang kita dapatkan. Untuk mengetahuinya, dikenal sebuah rasio dengan nama Price Earning Ratio (PER). Rasio ini membandingkan antara harga saham (price) dengan Earning per Share (EPS). Hasilnya menunjukan berapa yang kita dapatkan untuk setiap rupiah yang kita bayarkan. Semakin kecil angkanya semakin  bagus.

Tapi tunggu dulu, sering kali emiten bagus PER-nya ternyata udah tinggi, jadi apa yang harus kita lakukan. Tinggi rendahnya PER sebenarnya relatif terhadap perusahan sejenis, lakukan perbandingan antar PER ini dengan perusahaan sejenis atau dalam satu sektor yang sama, sehingga kita dapat memlilih yang lebih murah dan bagus. Tidak cukup sampai disana, kita juga harus mengetahui market leader suatu sektor yang memiliki PER premium (lebih besar) dibandingkan perusahaan sejenis. Tentu market folower akan punya PER lebih rendah.

Setelah PER, pertumbuhan di sisi revenue dan labanya dalam beberapa periode tertentu perlu dijadikan pertimbangan. Untuk mengukurnya dikenal rasio Price Earning Growth (PEG) Formula untuk menghitung PEG Ratio adalah PER dibagi dengan angka persentase ekspektasi pertumbuhan EPS per tahun. Kalau PEG lebih kecil dari 1 maka perusahaan tersebut di anggap layak investasi atau murah.

Tidak cukup sampai di sana dalam menentukan sebuah perusahaan murah dan bagus, dikenal juga Return on Asset (ROA). ROA membagi net income perusahaan dengan total aset menunjukan bagaimana sebuah perusahaan menggunakan aset nya untuk menghasilkan keuntungan. Semakin besar rasio ini artinya perusahaan mampu mengoptimalkan asetnya untuk menghasilkan keuntungan.

Tetapi ROA saja sering dirasa belum cukup karena investor banyak yang ingin tahu juga berapa return untuk setiap investasi yang ditanamkan. Untuk hal ini dikenal rasio Return on Equity (ROE) dimana rasio ini membagi Net Income dengan total equity atau modal pemilik. Rasio ini menunjukan tingkat pengembalian yang didapatkan pemegang saham untuk setiap investasinya, dan tentu saja semakin besar semakin bagus.

Masih ada satu hal lagi yang perlu investor perhatikan yaitu efisiensi perusahaan dari periode ke periode dalam menghasilkan laba. Hal ini diukur melalui Return on Sales (ROS) atau yang juga dikenal dengan nama Net Profit Margin (NPM). Rasio ini menunjukan dari setiap penjualan berapa persen yang dapat berubah menjadi laba bersih (net income) bagi pemegang saham. Semakin besar rasio menunjukan margin perusahaan semakin tinggi. Dan bila kita perhatikan dari beberapa priode, peningkatan rasio ini menunjukan bahwa perusahaan akan semakin efisien atau dengan kata lain berhasil menekan biaya operasi.

Ada satu hal terkait ROS ini, dimana bisa saja laba bersih dihasilkan dari pendapatan lain-lain atau pendapatan yang bukan merupakan operasi utama perusahaan yang tidak berulang. Karena itu kita perlu juga memgecek Operating Profit Margin (OPM). Dimana rasio ini membagi laba operasi dengan penjualan, sehingga menunjukan margin laba dari operasi utama perusahaan.

Semua rasio di atas berbicara soal keuntungan. Untuk mengukur risiko keuangan emiten, gunakan Debt to Equity Ratio (DER). DER membandingkan total utang terhadap modal perusahan, sehingga semakin besar rasio ini semakin berisiko sebuah perusahaan. DER menunjukan leverage/ pengungkit yang digunakan perusahaan untuk meningkatkan ROE, bagus bila hutangnya terkendali dan kondisi ekonomi yang baik. Ketika ekonomi memburuk penggunaan hutang yang besar (tercermin dari DER yang tinggi) akan menjadi bumerang karena kenaikan suku bunga langsung membebani keuangan perusahaan. Dan ingat hak pemegang saham sesudah pemberi pinjaman, sehingga bila perusahaan bangkrut pemegang saham hanya mendapatkan sisa.

Untuk emiten perbankan EPS dan PER sendiri sering kali didampingi dengan rasio Book value per share (BVS) dan Price book value (PBV). BVS membagi total equity dengan jumlah saham beredar (outstanding share), dimana rasio ini menunjukkan nilai buku perlembar saham. Lalu PBV sendiri membagi Price dengan BVS, dimana hal ini menunjukan apa yang kita dapatkan dari apa yang kita bayarkan.

Jadi sebagai investor yang cerdas kita harus fokus ke EPS, PER, PEG, ROA, ROE, dan DER untuk menemukan saham yang bagus dan murah. Dengan mendapatkan perusahaan terbaik berdasarkan rasio-rasio diatas diharapkan investor dapat mendapatkan profit yang maksimal. Kembali kita harus ingat bersama; membeli saham adalah membeli bisnis perusahaan. Mari kita bersama-sama berburu saham murah di saat pasar koreksi, tetapi ingat cari yang murah bukan murahan. (Hans Kwee, CSA)