Dark Pool, pasar “BM” untuk saham

6:15 AM | November 12, 2012 Fundamental No Comments

Bagaimana rasanya bila barang yang Anda beli begitu mahal rupanya dihargai dan dijual murah oleh orang lain, atau sebaliknya? Apa reaksi Anda? Mungkin menyesal karena telah membeli terlalu mahal, atau sebaliknya menyesal tidak membeli banyak barang tersebut. Itu biasa terjadi dimanapun, seperti halnya pasar gelap atau ‘BM’ ponsel. Harganya biasanya lebih murah dari harga pasar atau boleh jadi lebih mahal, suka-suka antara penjual dan pembeli.

Hal itu juga terjadi di pasar saham, pasar yang diklaim paling sempurna. Namanya, dark pool atau bila diartikan harfiah sebagai kolam gelap. Kolam itu mencari siapa saja yang berminat dengan block sale–transaksi saham dengan nilai transaksi besar di bursa dunia, termasuk Indonesia. Sesuai namanya, perbedaan paling menonjol sistem ini adalah transaksi diam-diam, anonim di pasar saham yang ramai. Broker tidak akan mengungkapkan data klien baik sebelum maupun sesudah trading.

Jadi dark pool adalah sebuah pasar saham tak ubahnya sebuah stock exchange resmi yang terdapat didalamnya broker saham, investors dan aturan-aturan main. Meski pasarnya tidak resmi, namun saham yang diperjualbelikan asli atau sama sepeerti saham yang diperdagangnkan di bursa saham resmi.


darkpool

Fasilitas ini menjadi alternatif perdagangan di luar bursa yang disukai investor kakap global, seperti hedge fund, manajer investasi, dan dana pensiun. Dengan fasilitas ini, mereka dapat mudah bertransaksi saham dalam jumlah besar dan tidak diketahui publik. Praktek dark pool murni memang belum ada di Indonesia. Tapi sudah ada dalam bentuk sederhana, misalnya crossing jual beli saham.

Crossing saham dilakukan oleh broker dan investor yang sama atau berbeda, dengan harga yang disepakati secara suka-suka. Namun transaksiny masih dilakukan melalui sistem perdagangan di pasar reguler. Motifnya bisa beragam, sekedar iseng, private placement investasi pada suatu emiten, konsolidasi saham oleh pengendali, utak-atik dana kelolaan oleh manajer investasi, hingga dipakai bandar untuk ‘menggoreng saham’ tertentu. Dalam skala kecil  juga dipakai oleh investor individu agar bisa menambah pagu fasilitas transaksi marjin dari sekuritas.

Ketidakmurnian crossing saham dari dark pool adalah masih adanya sedikit transparansi, dan teregulasi. Mengacu pada Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) Nomor IX.F.1 tentang Penawaran Tender, crossing saham mewajibkan pelaku menyampaikan transaksinya kepada Bapepam-LK dan BEI. Adapun transaksi saham via dark pool tidak dilaporkan, dan tanpa memerlukan izin otoritas. Alhasil, cara transaksi ini begitu disukai bagi investor yang suka bersembunyi.

Diskusi soal dark pool ramai dibicarakan tahun lalu di pasar Eropa dan Amerika Serikat (AS) setelah pangsa pasarnya meningkat signifikan dari transaksi pasar.  Di Indonesia mengemuka setelah Investment Technology Group (ITG) broker saham asal Amerika Serikat mengumumkan pembukaan fasilitas crossing saham ini di Indonesia pada Agustus lalu. Indonesia dijadikan negara ke-22 bagi pasar dark pool di Asia Pasifik yang dikelolanya karena melihat ada celah regulasi. Di Singapura, pasar ini diregulasi dan bahkan disediakan oleh Singapore Exchange (SGX) bekerja sama dengan broker Chi-X Global, namun dengan minimal nilai transaksi yang besar.

ITG kepincut dengan Indonesia setelah melihat tingginya kebutuhan likuditas di pasar saham.

ITG hendak bersaing dengan Liquidnet— urutan pertama broker dark pool dunia—yang telah membuka fasilitas trading untuk saham-saham di BEI itu sejak awal 2011. Keduanya bersaing ketat memperebutkan pasar dark pool di Asia. Awal bulan lalu, Liquidnet menambahkan bursa Filipina dalam sistem operasi dark poolnya.

“Pasar Indonesia mungkin pasar paling sulit di Asia, karena lebarnya spread (jual-beli) dan kurangnya likuditas,” ujar Lee Porter, managing director Likuidnet Asia seperti dikutip dari Financial Times. “Mirip dengan pasar Filipina.” Liquidnet memiliki lebih dari 230 anggota di Asia Pasifik yang terhubung dengan  bursa-bursa saham. Di luar pengguna sistem dark pool global mereka yang berjumlah sekitar 700 anggota.

Penyedia pasar tak teregulasi ini memang sedang mengincar Asia. Laporan Westwater Corp, konsultan manajemen dan teknologi bidang keuangan asal AS menyebut  pada Mei lalu pangsa pasar transaksi dark pool di bursa saham AS mencapai 13% dan diproyeksikan  tumbuh 15% pada akhir tahun.

Namun, ketatnya persaingan di pasar Eropa, dan AS, dan lesunya pasar membuat pendapatan dari bisnis ini terus menyusut.  Westwater merekomendasikan para pemain di bisnis ini untuk keluar, kecuali bisa bertahan hidup dengan cara melebarkan cakupan sistem dark poolnya ke belahan bursa lain.

Di Indonesia, pihak yang paling tidak suka dengan bisnis ITG dan Likuidnet adalah manajemen BEI. Keberadaan dark pool juga tidak disukai kolega-koleganya di bursa-bursa saham di dunia, karena seperti memindahkan lokasi dagang saham tanpa izin. Namun BEI tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali Bapepam LK melarang ITG atau Likudinet memperdagangkan saham-saham asal Indonesia.