IHSG diperkirakan konsolidasi menunggu hasil pertemuan FOMC ~ BNI Securities

8:08 AM | December 14, 2015 BERITA No Comments

Indeks Amerika dan Eropa ditutup melemah rata-rata 2% pada perdagangan Jumat 11/12 kemarin. Pelemahan indeks terjadi akibat nilai tukar Yuan yang terus menurun terhadap Dolar AS sehingga menyentuh level terendah dalam 4 tahun terakhir, di mana hal ini memberikan sinyal bahwa masih lemahnya ekonomi Cina.

Selain itu, ada ketakutan investor terhadap investasi “junk bond” setelah Third Avenue Management melakukan likuidasi terhadap salah satu produk mereka yang memiliki eksposur terhadap “junk bond”. Pelemahan indeks didorong oleh melemahnya saham dari sektor energi dan material, dikarenakan melemahnya harga komoditas seperti WTI Crude Oil yang menyentuh level USD 35,62/barrel (-3,1%).

Sentimen melemahnya harga komoditas juga mendorong pelemahan indeks Eropa, ditambah dengan lemahnya angka CPI Jerman yang hanya bertumbuh 0,1% MoM pada November 2015, jauh di bawah target jangka menengah ECB.

Pada regional Asia, indeks ditutup cenderung bervariasi. Indeks NIKKEI ditutup menguat 0,97% ke level 19.230 disusul menguatnya indeks AS pada hari Kamis, namun indeks Hang Seng dan CSI300 berada pada zona merah.

Bursa saham Cina masih dipengaruhi oleh melemahnya nilai tukar Yuan terhadap Dolar AS, serta volume perdagangan saham yang cukup rendah. Meskipun data retail Cina naik cukup signifikan, namun peningkatan jumlah kredit dianggap sebagai “seasonal effect” dan adanya sentimen negatif dari hilangnya eksekutif perusahaan Cina dan korupsi yang menjerat perusahaan Cina.

IHSG tercatat mengalami penurunan pada perdagangan Jumat kemarin ke level 4.393,52 (-72,69 poin) setelah adanya sinyal penurunan suka bunga oleh Bank Indonesia, yang diawali dengan penurunan GWM pada November. Pelemahan terdalam terjadi pada sektor aneka industri, yakni sebesar 4,14%. Sedangkan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS turut melemah ke level Rp 13.993/USD (-0,29%).