Tujuh Tips Memetik ‘Bunga’ Saham

6:16 AM | November 11, 2015 TUTORIAL No Comments

Oleh Suwono Kusuma

Sebagai nasabah yang menempatkan dana deposito di bank, anda akan mendapatkan bunga, sementara sebagai investor saham, anda akan mendapatkan ‘bunga’  dari selisih harga jual dikurangi dengan  harga beli (capital gain) dan dividen yang dibayarkan tiap tahun.   Tidak semua investor yang mengejar dividen.

Untuk trader yang terbiasa bermain dalam jangka waktu pendek, mereka lebih mementingkan selisih harga, sementara investor institusi ataupun investor jangka panjang memperhatikan dua-duanya.

Kinerja suatu perusahaan dinilai dari seberapa besar kemampuan manajemen dari perusahaan tersebut untuk mencetak keuntungan yang tercermin dari laporan keuangan tahunan.  Besarnya dividen yang akan dibagikan tidak dapat menjadi satu-satunya tolak ukur kinerja perusahaan.

Selanjutnya, perusahaan akan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk menentukan  berapa besar ‘coan’ atau keuntungan yang akan dibagikan dalam bentuk dividen.  Investor di Indonesia lebih menyukai perusahaan yang royal membagi dividen karena harga lebih stabil dan terjaga.  Dan sebaliknya, mereka tidak menyukai saham-saham yang tidak membagi dividen karena manajemen dianggap pelit.

Berikut ini ada beberapa strategi yang biasa digunakan oleh klien baik itu ritel maupun institusi dalam memetik “bunga “di bursa  namun tidak terkena duri :

  1. Cermati Kondisi Pasar.

Di saat kondisi pasar sedang ramai  (bullish) dan perekonomian sedang bagus,    biasanya investor lebih mengutamakan saham-saham kecil atau lapis kedua yang kinerjanya sedang bertumbuh.  Maklum, karena harganya relatif lebih murah, sehingga lebih menjanjikan untuk berburu capital gain.  Namun ketika bursa sedang sepi dan kurang bergairah seperti sekarang, investor akan lebih memilih saham-saham berkapitalisasi besar dengan pembagian dividen yang bagus.  Alasannya sederhana, kalau harga saham turun, investor paling tidak masih untung dari dividen. .   Contoh perusahaan yang rutin membagi dividen adalah : PT. Astra Internasional Tbk (ASII),  PT. United Tractors Tbk, PT. HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT. Bank Danamon Tbk (BDMN), PT. Valle Indonesia Tbk (INCO) malahan membagi dividen dalam mata uang US$.

  1. Perhatikan Rekam Jejak ( Track Record ) dari Perusahaan.

Tanyakan pada pialang saham anda, apakah saham dari perusahaan yang  dibeli selalu membagi dividen ketika sedang mencetak laba?  Apakah ada saat dimana perusahaan tidak bagi dividen?  Apakah perusahaan baru tahun ini membagi dividen atau sudah kontinyu setiap tahun membagi dividen? Apakah dividen dibagikan karena memang membukukan laba atau karena ada pos luar biasa, misalnya kuasi reorganisasi?  Perlu juga diingat, tidak semua perusahaan yang sudah untung akan membagi-bagi keuntungannya dalam bentuk dividen, ada juga yang memutuskan untuk menahan laba (retained earning) sebagai tambahan modal untuk ekspansi usaha.

  1. Manfaatkan Momentum.

Gunakan saat saat koreksi untuk masuk membeli saham-saham unggulan,  Bukankah bursa saat ini sedang sangat fluktuatif karena didalam negeri ada kenaikan harga BBM dan juga kondisi perekonomian eropa yang masih diselimuti krisis hutang yang belum selesai. Kumpulkan saham-saham unggulan yang akan bagi dividen, dan jual ketika mendekati saat-saat pembagian dividen.  Ilustrasinya begini : Jika bulan lalu anda sudah membeli sebuah saham yang akan membagi dividen Rp.500/lembar, namun kenaikan harganya sekarang sudah mencapai Rp.1000,  anda masih menunggu dividen atau akan merealisasikan keuntungan yang sudah pasti ?

  1. Perhatikan Likuiditas saham.

Jangan terjebak hanya pada besarnya dividen yang dibagikan.  Saham-saham tertentu selalu membagikan dividen dalam jumlah besar karena memang sahamnya tidak likuid dan sebagian besar sahamnya masih dimiliki keluarga atau perusahaan induk.  Misal : PT. Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) tahun lalu bisa memberikan dividen yield hingga 7%an atau sekitar Rp.21.279/saham,  75% sahamnya dimiliki oleh PT. Asia Pacific Breweries Ltd.  Atau PT. Gudang Garam Tbk (GGRM) tahun lalu bisa membagikan dividen Rp.880, karena 69,29% sahamnya dimiliki oleh PT. Suryaduta Investama.  Intermezzo saja, pernahkah anda menghitung berapa jumlah dividen yang diterima oleh keluarga besar Gudang Garam tiap tahunnya ?  Resiko berinvestasi di saham tidak likuid : anda akan kesulitan jual kalau lagi membutuhkan uang.

  1. Saham-Saham BUMN layak jadi incaran.

Disaat musim bunga (dividen), Sang Juragan BUMN, dalam hal ini pemerintah akan minta setoran dividen yang besarnya bervariasi sekitar 25-50% dari keuntungan yang sudah diraih tahun lalu.  Saham-saham BUMN bervariasi dari sektor perbankan, pertambangan, infrastruktur dan telekomunikasi rutin dalam membagi dividen. Untuk tahun ini, Investor dapat mengkoleksi saham-saham BUMN yang bergerak di bidang infrastruktur karena janji pemerintah untuk menggalakkan pembangunan infrastruktur atau perusahaan tambang batubara karena tren harga minyak dunia yang sedang tinggi.

  1. Perhatikan cum date dividen dan ex date

Cum date adalah kapan  tanggal terakhir anda masih bisa membeli saham tersebut untuk mendapat dividen.  Sedangkan ex-date adalah kapan anda boleh menjual saham tersebut tapi sudah memiliki hak untuk dividen. Selanjutnya uang dividen akan masuk ke rekening anda ketika tanggal pembayaran dividen tiba.  Penting : Ketika ex-date, terutama saat bursa sedang sepi dan kurang menarik, harga saham akan langsung terkoreksi mengikuti besarnya dividen, akan tetapi ketika pasar sedang bagus, bukan tidak mungkin investor selain mendapat dividen, juga mendapat untung dari selisih karena harga saham bukannya koreksi malahan naik kembali.

  1. Pertumbuhan laba lebih penting dibandingkan dengan dividen .

Kalau anda dihadapkan pada pilihan untuk berinvestasi pada saham yang diprediksi dapat memberikan pertumbuhan laba sekitar 15-25% per tahun atau saham yang memberikan dividen sebesar 7%, mana yang anda pilih? Kalau dividen itu sifatnya pasti, sedangkan pertumbuhan laba itu masih belum pasti karena sifatnya masih proyeksi.  Seorang risk taker akan mengambil pilihan yang pertama, yaitu saham yang bisa tumbuh 15-25% per tahun.  Bagaimana dengan Anda ?