Alkisah raja ponzi modern Robert Allen Stanford

5:45 AM | November 1, 2013 Fundamental No Comments

Allen-StanfordPertengahan Juni 2012, sepak terjang  miliarder asal Amerika Serikat yang pernah terdaftar sebagai orang ke-605 terkaya di dunia berakhir di tangan seorang hakim Texas.

Robert Allen Stanford dijatuhi hukuman 110 tahun penjara karena terbukti mendalangi salah satu skema ponzi terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Sepanjang 20 tahun kisah penipuan sertifikat deposito bodongnya, Allen berhasil menipu 170 ribu investor di 130 negara, dan mengeruk US$7 miliar uang mereka.

Jaksa sebelumnya menuntut 230 tahun penjara untuk menebus dosa Stanford yang maha besar, sementara pengacaranya meminta hukuman maksimal 44 bulan. “230 tahun memang tidak akan mengembalikan uang investor, tapi di malam ketika terjaga mereka akan tahu bahwa Stanford diganjar hukuman maksimal”, kata jaksa kepada Hakim Distrik AS, David Hitner.

Juri yang menghukum mantan taipan Texas itu juga membuka jalan bagi pemerintah AS untuk melacak sekitar $ 329 juta dana hasil penipuan di rekening Standford yang dibekukan di bank asing di London, Kanada dan Swiss. Tiga mantan eksekutif Stanford juga dijadwalkan untuk sidang pada bulan September ini. Seorang mantan regulator di Antigua yang terlibat juga telah didakwa dan menunggu ekstradisi ke AS.

Dalam pembelaannya, Stanford menyampaikan pernyataan bertele-tele. Di bawah tatapan tajam lebih 150 orang yang sebagian korban, memenuhi ruang sidang di Houston itu, Stanford masih kukuh berkelit tidak bersalah sedikitpun dan mengaku dijadikan kambing hitam. Dia menyalahkan pemerintah federal dan receiver (kurator) yang ditunjuk AS yang mengambil alih perusahaannya pada tahun 2009.

“Saya di sini bukan untuk meminta simpati atau pengampunan atau untuk melemparkan diri pada belas kasihan Anda. Saya hanya ingin memberitahu Anda bahwa saya tidak menjalankan skema Ponzi. Saya tidak menipu siapapun,” katanya dalam salah satu narasi bicara selama 40 menit di persidangan terakhir. Namun, mantan pemain sandiwara berusia 62 tahun ini melambai tangan kepada ibunya, Sammie Stanford, yang duduk di dalam pengadilan bersama putrinya, Randi diakhir persidangan.

Pengacara Stanford, Ali Fazel, sebelumnya keberatan dengan penggunaan istilah skema ponzi. Tapi Hakim mengatakan bukti di pengadilan membenarkan penggunaan istilah itu. Selama persidangan, jaksa juga membandingkan modus Stanford dengan ‘seniornya’ sesama pemain ponzi Bernie Madoff, yang saat ini menjalani hukuman 150 tahun penjara.

Atas vonis terhadap dirinya, Stanford berencana mengajukan banding meskipun ia secara resmi sudah dinyatakan miskin—tanpa uang sepeser pun. Stanford, mantan pemegang gelar bangsawan dari Antigua—sebuah negara kepulauan di Laut Karibia bagian timur—ini ditangkap pada 2009. Sejak itu, semua asetnya telah dibekukan, dan ia telah diwakili oleh pembela umum. Penjara panjang bukan pertanda baik untuk Stanford yang sebelumnya telah dipukuli oleh sesama narapidana sampai masuk rumah sakit.

 

Stanford pernah masuk jajaran elit orang terkaya di Negeri Paman Sam, dengan estimasi kekayaan bersih pribadi menurut majalah Forbes lebih dari US$2,2 miliar. Dia menempati sebuah rumah seharga US$ 7,7 juta di Pulau Karibia yang ia sebut Tyecliffe Castle, dan kapal pesiar 120-kaki bernama Elang Laut. Kerajaan keuangannya membentang dari AS ke Amerika Latin dan Karibia sehingga tak pernah habis membiayai gaya hidup mewahnya.

Kekayaan itu membuat status sosialnya naik, sehingga dekat dengan petinggi Antigua. Negara ini adalah negara dengan sistem monarki kostitusional, dibawah Ratu Inggris, Elizabeth II. Stanford dekat dengan penguasa setempat, Gubernur Jenderal Louise Lake-Tack.

Status sosial begitu penting bagi Stanford sehingga kontroversi adalah hal yang paling dia cari. Pada bulan Juni 2008, Stanford menandatangani kesepakatan kontroversial dengan Organisasi Kriket Inggris dan Wales (ECB) untuk rangkaian lima pertandingan Twenty20 cricket antara Inggris dan dari tim Karibia yang dinamai  ‘Stanford All-Stars.’ Pemenangnya akan mendapat £ 13,6 juta yang ia keluarkan dari kantong pribadinya.

Selama turnamen, Stanford digambarkan duduk dengan para istri pemain Inggris. Trik untuk diakui sebagai bagian komunitas jet set Inggris berikutnya adalah untuk terbang ke lapangan kriket Lords di London, dengan helikopter pribadi yang dipenugi dengan peti harta karun berisi uang. Ia bahkan berencana untuk menjadi penyelamat tim kriket Inggris, meskipun mengakui tidak pernah benar-benar bisa memahami permainan itu.

Bahkan, Stanford pernah mengaku ada berhubungan erat dengan para elit Stanford University di California, sebelum akhirnya dibantah oleh pihak uiniversitas dengan tambahan aduan penyalahgunaan nama baik. Pada saat penangkapannya, pada bulan Februari tahun 2009, ECB telah memutuskan semua hubungan dengan Stanford dan gelar ksatria dari Antigua yang dianugerahkan kepadanya oleh Ratu Elizabeth II –akhirnya juga dilucuti.

Kepura-puraan pada kemegahan sebenarnya bukanlah hal baru bagi Stanford. Pernikahannya di kota asal istrinya, Susan dari Teague, Texas, pada malam September pada tahun 1975 awalnya dilaporkan di media  lokal seolah-olah sebagai perjodohan antar dinasti yang super mewah.  Padahal Teague, ternyata hanya sebuah kota berdebu di padang rumput Texas. Ayah Susan juga hanyalah seorang konduktor kereta api dan orangtuanya memiliki sebuah bungalow sederhana. Stanford juga dikenal memiliki reputasi buruk soal wanita. Pada tahun 2009, The Mail on Sunday melaporkan meskipun beristrikan Susan yang akhirnya diceraikan, Stanford juga memiliki beberapa gundik, dan setidaknya empat anak di luar pernikahannya dengan Susan.

 

Stanford memulai belajar bisnis dengan meneruskan warisan ayahnya yang mengelola sebuah jaringan klub kesehatan. Dia juga pernah suskses di bisnis properti. Lantas dari pertengahan tahun 1980 sampai Februari 2009, Stanford sukses membangun emporium keuangan yang pada puncaknya berhasil membual 30 ribu nasabah di 130 negara dan  mengelola investasi miliaran dolar AS. Kerajaan bisnis bekas pemilik gym dari Mexia, Texas  ini terdiri dari lebih 140 perusahaan yang tersebar di seluruh dunia, dan beroperasi di bawah nama “Stanford Financial” dengan kantor pusatnya di Houston, Texas.

Sejak memulai bisnis di sektor keuangan, Stanford sudah membangunnya dari aksi tipu menipu. Awalnya dia menerapkan skema ponzi dengan membuka bank pertamanya dari pulau kecil di Karibia, Pulau Montserrat, pada tahun 1985 bernama  Guardian International Bank (The Guardian). Bank yang menjadi cikal bakal dari kekaisaran Stanford ini lalu mendirikan kantor perwakilan untuk di Miami dan Houston, yang dirancang untuk melayani klien kaya, termasuk dari Amerika Latin. Guardian menawarkan sertifikat deposito (CD), biasanya 2-3% di atas tingkat rata-rata yang tersedia di pasar.

Namun, pada pada tahun 1989 otoritas AS dan Inggris mencium gelagat tidak sedap dari produk itu. Keduanya mulai melakukan penyelidikan terhadap Guardian, atas dugaan pencucian uang narkoba. Di bawah sorotan dua otoritas negara itu Stanford takut.

Dia langsung putar haluan dan mengalihkan seluruh aset dan kantor pusat Guardian ke Antigua. Dia mendirikan bank baru Stanford International Bank Ltd (SIBL) yang tak lain adalah wujud baru Guardian. Ketika akhirnya otoritas mencabut ijin Guardian di Montserrat pada Mei 1991, Stanford juga secara resmi mengganti nama Guardian menjadi SIBL pada 1994 di Antigua.

Untuk lebih mengamankan bisnisnya dari kejadian serupa di Guardian, Stanford mulai mendekati penguasa setempat. Ia dekat dengan hampir tokoh kunci pemerintah Antigua, sehingga selalu mendapatkan perlindungan politik dan hukum.

Sebagai imbalannya, Stanford bersedia menjadi sumber pendanaan untuk negara dengan meminjamkan ratusan juta dolar kepada pemerintah selama bertahun-tahun. Stanford sudah seperti penguasa negara kecil itu. Dia membungkan pers dengan membeli surat kabar, Antigua Sun.

Pada tahun 2004, pemerintah pulau itu berhutang kepada Stanford Financial lebih dari US$ 87 juta, hampir setengah dari penerimaan pajak tahunan Antigua.  Korupsi, Kolusi dan Nepotisme pengusaha dan pemerintah itu begitu tampak ketika kelompok usaha Stanford dituduh melakukan pencucian uang pada tahun 1998-1999.

Para pejabat Antigua sampai rela untuk mengubah undang-undang perbankan negara itu demi melindungi kerajaan bisnis Stanford. Ketika itu, Stanford kemudian berhasil mendorong lahirnya komisi pengawas baru (FSRC) untuk mengganti pengawas yang lama di Antigua.

Setelah merasa aman dan kuat di Antigua, lagi lagi Stanford mengulangi modus lamanya dengan mendirikan Stanford GroupCompany (SGC) di Houston, Texas yang merupakan perusahaan sekuritas terdaftar. Bisnis perusahaan efek nya ini meliputi aset manajemen, penasihat investasi.

Disinilah Stanford bisa leluasa menjual produk-produknya ke AS, dan seluruh dunia. Di luar dua motor utama bisnisnya itu, terdapat juga Stanford Trust Company  (STC) di Louisiana, Stanford Trust Company di Antigua, dan banyak kantor perwakilan di sejumlah kota dan negara di Amerika Latin.

Pada November 1998, SIBL mengajukan pengecualian peraturan ke SEC (Securities Exchange Commission)—Badan Pengawas Pasar Modal di AS–untuk memungkinkan Stanford menjual CD SIBL kepada “investor terakreditasi” di Amerika Serikat tanpa mendaftarkannya seperti efek biasa.

Meski produk itu hanya diperbolehkan bagi investor tertentu, kenyataannya Stanford ternyata menjualnya secara umum. Dari tahun 2004 hingga 2008 Stanford Financial—yang dimotori SIBL, SGC dan SCT—berkembang dan memiliki tenaga penjualan dan pemasaran raksasa.

Stanford Financial bahkan memulai kampanye iklan televisi intensif di AS pada tahun 2005 yang dirancang untuk mempromosikan penjualan CD. Sebagai strategi bisnis, Standford bahkan mendirikan perusahaan yang berbeda untuk saling bersaing menjual CD, dan mengembangkan nama tim yang aneh-aneh seperti “Cash Machine”, “Eagles Aztec” dan “Superstars”.  Untuk memasarkan dan menjual CD SIBL, Stanford membentuk struktur komisi yang memberikan insentif besar bagi tenaga pemasaran.

Meskipun penerbitnya hanya bank asal negara antah berantah, Antigua dengan kampanye pemasaran yang lihai dan didukung perusahaan efek yang legal dan terdaftar di AS, Stanford bisa membuat calon investornya di Negeri Paman Sam percaya bahwa produk itu aman dan bahkan dilindungi. Skema model seperti ini pernah terjadi di Indonesia pada 2008.

Yaitu, reksa dana bodong terbitan PT Antaboga Delta Securitas yang dijual kepada nasabah-nasabah Bank Century. Stanford akhirnya bisa “go international” dan mengoperasikan perusahaan dari surga Karibia yang aman dan berada di luar peraturan batas-batas negara manapun. Apakah Amerika Serikat, Antigua, Meksiko atau di tempat lain. Dalam praktiknya, Stanford Financial sering melanggar hukum hampir setiap negara tempatnya beroperasi, termasuk Amerika Serikat, Meksiko, Venezuela dan Antigua.

Sama seperti penipuan Ponzi lainnya, Stanford menutup rapat soal pengelolaan investasinya. Dengan dana dari investor baru, dia berupaya terus konsisten memberi imbal hasil yang diharapkan bagi investor, sekaligus menghindar dari sorotan otoritas pengawas. Sebenarnya, sejak 2004 SIBL secara teknis telah bangkrut, karena kewajibannya telah melebihi nilai wajar aktivanya. Namun, Stanford  terus menjual CD sampai akhir 2009 dengan menawarkan bunga CD di atas harga pasar dengan memanipulasi laporan keuangannya.

Langkah nekat ini kian menjerumuskan SIBL semakin dalam. Satu-satunya cara agar bisa terus bertahan adalah dengan menggunakan dana dari nasabah baru untuk membayar bunga, beban, dan penarikan dana (redemption) oleh investor. Jadi aset SIBL yang meningkat untuk mengimbangi kewajibannya telah direkayasa untuk sampai pada tingkat yang diinginkan.

Setiap tahun atau periode kuartalan, Stanford dan anak buahnya hanya akan menentukan tingkat pendapatan SIBL fiktif yang diperlukan agar laporannya tampak baik untuk investor dan regulator. Setelah kasusnya terbongkar, Leroy King teman baik Stanford yang menjabat Kepala FSRC Antigua itu akhirnya mengakui menerima suap untuk menutup mata atas aktivitas bisnis Stanford. Ikatan Stanford dan King bahkan disebut sudah seperti saudara dan telah melalui ritual aneh menurut kepercayaan Voodoo.

Meski nasib Stanford telah berujung di balik jeruji, nasib korban penipuan senilai US$7 miliar sama sekali tidak jelas. Namun, harapan investor muncul setelah SEC memberi rekomendasi korban Stanford bisa menerima kompensasi dari dana federal AS.


 

SKEMA PONZI DARI MASA KE MASA

  1. Empunya Nama “Ponzi”

Raja Cepat Kaya, Charles Ponzi menjadi jutawan dalam enam bulan dengan menjanjikan bunga 50% dalam 45 hari pada investasi internasional kupon pos. Dia memperoleh US$ 15 juta, jumlah yang sangat besar pada tahun 1920. Setelah terungkap, dana investor yang kembali hanya US$ 5 juta. Nama Ponzi kemudian menjadi cikal bakal penipuan lewat skema yang kurang lebih sama. Menggunakan dana investasi nasabah baru untuk membayar bunga nasabah lama.

  1. Si Gila “Madoff”

Bernard Madoff yang menghabiskan puluhan tahun membangun skema Ponzi terbesar dalam sejarah, berhasil menipu organisasi nirlaba, orang-orang terkenal, dana, bank, dan masyarakat umum. Hasil penipuannya mencapai US$ 50 miliar. Kasus Madoff banyak menyeret investor besar karena reputasinya yang cukup dikenal di kalangan pasar modal AS.

  1. Penjarah Pensiunan

Pemilik resort asal Meksiko, Michael Eugene Kelly membobol dana pensiunan dan warga senior senilai US$ 428 juta. Dia menawarkan investasi berjangka dengan tingkat pengembalian tetap yang menarik yang katanya akan diputar pada bisnis hotel di Cancun. Kebanyakan korbannya menggunakan tabungan pensiun mereka, sementara itu Kelly berfoya-foya membeli sebuah jet pribadi, arena pacuan kuda, dan empat kapal pesiar.

  1. Bandit “Boy Band”

Bermula dari akhir 1980-an, Lou Pearlman, sepupu Art Garfunkel dan mantan manajer ‘N Sync dan Backstreet Boys, menawarkan imbal hasil yang menarik melalui tabungan FDIC-nya. Meski skema ini bukanlah tabungan dan pinjaman atau FDIC yang disetujui, Pearlman berhasil menipu  investor hampir US$ 500 juta yang rencananya akan digunakan untuk pendanaan tiga acara MTV dan sebuah kompleks hiburan.

  1. Penipu Alkitab

Dalam penipuan di  Florida, jemaat ditipu oleh pengurus gereja Gerald Payne hingga US$ 500 juta. Dimulai pada awal 1990-an, gereja menawarkan  investasi jamaah dalam koin emas. Payne kemudian menciptakan suatu rencana investasi yang akan  melipatgandakan berkah yang diinvestasikan jamaahnya dengan menyalurkan uang ke arah investasi palsu gereja di logam mulia.

  1. Tiga Bersaudara Kosta Rika

Tiga bersaudara asal Kosta Rika, Enrique, Osvaldo dan Freddy Villalobos, meraup dana hingga US$400 juta dalam skema penipuan yang berlangsung hingga 20 tahun. Produknya, adalah tabungan yang menjanjikan tingkat bunga 3% per bulan pada investasi minimal US$ 10.000, sebagian besar klien yang ditipu adalah pensiunan di Amerika dan Kanada.

  1. Pemberontakan Albania

Ketika Albania bergerak dari balik Tirai Besi di pertengahan 1990-an, ekonomi didominasi oleh skema piramida. Pemerintah mendorong berkembangnya berbagai skema Ponzi, yang merampok sebagian besar penduduk dengan nilai lebih dari US$ 1 miliar. Kegagalan sistem ini berujung pada kerusuhan di Albania yang akhirnya menggulingkan pemerintah.

  1. Ular “Scientology”

Pendiri Earthlink dan pengurus Scientology, Reed Slatkin berhasil menipu warga kelas A Hollywood dan bos-bos perusahaan. Bekerja dari garasinya, Slatkin berhasil menarik uang keluarga kaya dan terkenal sekitar US$ 593 juta,yang turut dia pakai membiayai Gereja Scientology.

  1. Pembenci Haiti

Skema Ponzi muncul di seluruh Haiti di tahun 2000-an yang berbentuk koperasi dan mengaku mendapat dukungan dari pemerintah. Akibatnya, orang merasa aman berinvestasi lebih dari US$ 240 juta, atau lebih dari 60% dari PDB Haiti pada 2001 yang akhirnya terbukti menjadi penipuan besar-besaran.

  1. Penipuan Kaum Feminis

Pada tahun 1880, dalam skema Ponzi di Boston, Sarah Howe menjanjikan perempuan bunga 8% pada “Deposit Perempuan.” Dia mengatakan produk itu hanya khusus untuk kalangan wanita,dengan mengiming-imingi keselamatan secara implisit. Kenyataannya, setelah berhasil mengumpulkan sejumlah dana, dia mengambil uang itu dan lari.