Mengais sisa gain sampai ujung tahun

5:21 AM | October 10, 2012 Fundamental No Comments

Setelah mengalami kenaikan yang cukup signifikan di bulan Agustus, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) tampaknya masih akan menghadapi beberapa guncangan sebelum menutup tahun 2012 pada posisi antara 4140-4350. Pada estimasi teratas (4350), IHSG diperdagangkan pada rasio P/E sekitar 16.5 X atau merupakan rasio P/E rata-rata tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Yang menarik untuk diperhatikan adalah saham sektor mana saja yang kiranya akan menopang IHSG menuju ke level estimasi tertingi tersebut. Lalu peristiwa dalam negeri dan luar negeri mana saja yang tampaknya menjadi faktor pemicu atau penghambat? Apakah IHSG mampu menembus level tertingi atau harus puas bertahan di atas level 4000 saja?.

Selama ini yang selalu menjadi hantu adalah krisis hutang negara-negara zona Eropa. Yunani adalah negara pertama yang menyatakan kesulitan untuk membayar kewajiban utang. Nilai produk domesik bruto mereka lebih kecil dibanding hutang yang harus dibayar. Sejak awal 2011, banyak yang berpikir kegagalan pembayaran utang pemerintan Yunani akan menghasilkan efek domino bagi negara lain di Eropa yang memiliki surat utang mereka.  Selain Yunani, beberapa negara lain seperti Portugal, Spanyol dan Irlandia juga mempunyai masalah yang hampir mirip dengan Negeri Para Dewa itu.

Kekhawatiran adanya penanganan yang salah sehingga berakibat rentetan gagal bayar ini kemudian memicu spekulasi mengenai kemungkinan adanya ketidakstabilan finansial di seluruh dunia. Ini karena Eropa adalah tujuan ekspor bagi negara-negara penting di Asia, Amerika, Australia dan Afrika. Penurunan ekspor ke Eropa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut. Akibatnya  gelombang kekhawatiran akan adanya pelambatan ekonomi global sering menghantam sentimen berinvestasi, baik itu di sektor riil maupun sektor investasi lain seperti pasar saham, uang dan obligasi.

Selain krisis utang negara zona Eropa, dunia juga tampaknya masih akan berkutat dengan kehawatiran pelambatan ekonomi China. Importir terbesar barang-barang komoditas dan turunannya seperti batubara dan minyak sawit. Ekonomi China yang diperkirakan melambat ke 8% pada tahun ini—dibanding dimasa kejayaannya sekitar 9 -11%–tentunya berdampak langsung kepada ekspor Indonesia.

Penurunan ekspor batubara dan minyak sawit ke China telah menghantam posisi perdagangan luar negeri Indonesia menjadi defisit. Dampaknya jelas, yaitu menekan angka pertumbuhan cadangan nilai tukar (foreign exchange reserves) yang selama ini sukar untuk naik melebihi US$120 miliar.

Jika ini berlanjut, dapat membahayakan kemampuan rupiah untuk bertahan di zona Rp9.400-Rp9.600 per dollar Amerika Serikat. Pelemahan rupah pada gilirannya akan berdampak signifikan kepada perusahaan-perusahaan dibidang farmasi yang mengandalkan bahan mentahnya dari impor, dan telekomunikasi yang mengandalkan impor barang jadi untuk produk infrastrukturnya.

Terlepas dari pelbagai aura negatif tadi, dunia masih akan dikejutkan dengan sikap Bank Sentral Amerika (The Fed) mengelola keseimbangan moneter dan finansial negara pasca dua paket stimulus ekonomi (quantitative easing I dan II) . Fakta bahwa ekonomi negara tersebut hanya mampu bertahan untuk ‘tidak’ menuju resesi setelah kedua paket itu diluncurkan telah menimbulkan spekulasi liar.

The Fed diperkirakan bakal mengeluarkan kebijakan QE3 lagi untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi yang pada kuartal kedua kemarin hanya tumbuh 1,5% saja—meski lebih baik dari rata-rata kinerja negara di Zona Eropa yang hanya tumbuh di bawah 1,2%.

Spekulasi ini berhasil mengangkat optimisme pasar saham dan pasar obligasi sehinga indeks harga saham Dow Jones naik di atas 13000—level yerbaik sebelum krisis 2008.

Dari dalam negeri, mungkin kendala utama penghambat pergerakan IHSG hanya ada pada kekhawatiran semakin membesarnya defisit neraca perdagangan akibat penurunan ekspor komoditas dan melemahnya rupiah. Di sini, peran Bank Indonesia amat vital untuk menentukan kebijakan terbaik menjaga rupiah. Jika rupiah terjaga baik dan stabil, maka sektor ekonomi yang sensitif terhadap pegerakannya diharapkan tidak akan banyak terganggu.

Manajemen Uang Formasi 4-42

Selain faktor-faktor di atas, sikap investor dalam situasi ini, terutama investor ‘retail’ dalam mengelola dana juga menjadi salah satu kunci penting dalam berinvestasi. Rasio penggunaan dana seperti 4-4-2 mungkin dapat dicontoh untuk menjaga agar dana tetap sehat dan bisa terus berkembang. Sebagai contoh, jika Anda mempunya dana Rp100, maka Anda dapat menggunakan Rp40 dana pertama untuk berinvestasi pada saham yang harganya sudah jatuh di atas 30%-40% serta mempunyai fundamental keuangan yang baik.

Selanjutnya, dana Rp40 berikutnya dipakai untuk a day trade atau trading jangka pendek. Misalnya, untuk Rp1 rupiah atau Rp5 atau Rp10 atau Rp25 atau Rp50 rupiah (sesuai fraksi harga), maka Anda wajib untuk merealisasikan keuntungan harian.

Sementara, sisa Rp20 dipakai sebagai pegangan tunai. Pada prinsipnya jika mengunakan alokasi pengelolaan dana seperti ini, secara teoritis Anda mempunyai cash Rp560 rupiah yang dapat digunakan setiap saat. Terutama  ketika ada peluang keuntungan untuk membeli saham yang mempunyai pergerakan cepat. Jika Anda menggunakan secara disiplin manajemen dana di atas, kami yakin Anda akan selalu tersenyum ketika IHSG hijau maupun merah.

Beberapa saham yang diperkirakan dapat memberikan gain untuk kuartal ke empat, bisa dilihat pada saham seperti DKFT (Central Omega Resources Tbk) yang sekarang diperdagangkan dikisaran Rp330-Rp350 per saham dengan rasio P/E hanya sekitar 6.2 X, dan laba persaham (EPS) 2012 sekitar Rp56 per saham. Saham ini jauh lebih murah dibanding rasio harga rata-rata industri yang sama di Asia sebesar 13X. Harga wajar DKFT seharusnya ada dikisaran Rp56 dikali 13 atau sama dengan Rp728 per sahamm sehingga dapat memberikan return sebanyak 114% jika mencapai harga wajarnya.

Saham second-line lain seperti RIGS (Rig Tenders Indonesia Tbk) juga tampak atraktif mengingat saat ini diperdagangkan pada kisaran rasio P/E di bawah 3.0X, lebih rendah  dibanding industri sejenis dikawasan Asia sebanyak 12 X. Harga wajar RIGS seharusnya pada 12 X Rp206 atau sama dengan Rp2.472 per saham. RIGS juga dalam proses untuk melakukan beberapa aksi korporasi untuk mendukung bisnisnya dimasa mendatang.

Untuk saham blue chips, kami melihat beberapa saham perbankan seperti BBRI (Bank Rakyat Indonesia Tbk) dan BMRI (Bank Mandiri Tbk) tetap menarik untuk dikoleksi mengingat baiknya struktur permodalan kedua bank tersebut. Sekarang keduanya masih diperdagangkan pada rasio P/E di bawah rata-rata rasio P/E perbankan sebesar 14X. Pada rasio P/E rata-rata perbankan terbeut, BBRI seharusnya diperdagangkan pada nilai wajar seharga Rp9.800 per saham dan BMRI pada harga Rp8.800 per saham.

Untuk sektor otomotif, kami masih tertarik untuk mengakumulasi saham Astra International Tbk (ASII) dan Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) mengingat kecenderungan daya beli masyarakat kelas menengahke atas Indonesia yang semakin baik. Dari 23,5 juta penduduk Indonesia, kami perkirakan hanya 10% saja atau sekitar 23,5 juta orang yang mempunyai tingkat kemakmuran sekelas penduduk kaya di Singapura.

Jika 10% dari 23,5 juta warga itu berminat membeli mobil baru, maka industri mobil nasional harus memproduksi sekitar 2,35 juta unit kendaraan setiap tahunnya. Jumlah ini jauh di atas kapasitas terpasang total industri nasional yang hanya 1 juta unit per tahun. Kami perkirakan saham ASII dapat mencapai harga terbaiknya di kisaran Rp9.000 dan Rp10.000 di tahun depan.